Menghitung Persediaan Metode Periodik dan Perpetual

Dalam istilah akuntansi PSAK di Indonesia, kita mengenal 2 metode dalam menghitung persedian barang dagangan. 2 metode itu adalah Metode Periodik dan Perpetual. Masing-masing metode memiliki karakteristik tersendiri dalam menghitung nilai persediaan yang ada di gudang, ada perbedaan menghitung persediaan metode periodik dan perpetual. Apa saja itu?
Metode periodik dan perpetual ini sebetulnya sama-sama mengfungsi untuk menghitung nilai persediaan dari suatu barang yang ada di gudang di perusahaan. Perbedaannya terdapat pada cara menghitung HPP barang tersebut, yang mana metode Periodik tidak mencatat HPP saat transaksi penjualan. Sedangkan metode Perpetual melakukan pencatatan aktivitas keluar masuk persediaan dan HPP ketika transaksi penjualan.
Dari 2 metode yang ada, metode persediaan dengan periodik dan perpetual sama-sama memiliki keunggulan,
  • Periodik, pencatatan hanya dilakukan saat pembelian, pencatatan HPP dilakukan nanti di akhir periode yang ditentukan (bulanan, triwulan, semester atau tahunan) perusahan, sehingga lebih cepat dan ringkas dalam membukukan Penjualan.
  • Perpetual, kita bisa mengatahui posisi nilai persediaan kapan saja, karena selalu di bukukan/dijurnal setiap ada aktivitas keluar masuk.
Berikut ini contoh kasus untuk menghitung persediaan metode periodik dan perpetual:
  • Persediaan awal 50.000.000
  • 02.01.2014 Dibeli persediaan barang dagang 100 pcs, @ 1.000.000, tunai.
  • 10.01.2014 Dibeli persediaan barang dagang 100 pcs, @ 1.000.000, tunai
  • 12.01.2014 Penjualan 20 pcs @ 1.200.000, kredit
  • 15.01.2014 Penjualan 30 pcs @ 1.200.000, kredit
Metode Periodik:
02.01.2014
Persediaan[D] 100.000.000
Kas/bank[K] 100.000.000

10.01.2014

Persediaan[D] 100.000.000
Kas/bank[K] 100.000.000

12.01.2014
Piutang usaha[D] 24.000.000
Penjualan[K] 24.000.000

15.01.2014

Piutang usaha[D] 36.000.000
Penjualan[K] 36.000.000

Pada akhir periode (misal akhir bulan) dilakukan perhitungan fisik persediaan, atas perhitungan fisik tersebut didapatkan saldo akhir 200.000.000, maka penyesuaian HPP-nya adalah:

= Saldo akhir – Pembelian + Saldo awall
= 200.000.000 – 200.000.000 + 50.000.000
= 50.000.000
Jurnal penyesuaian:
31.01.2014
HPP[D] 50.000.000
Persediaan[K] 50.000.000

Metode Perpetual
02.01.2014

Persediaan[D] 100.000.000
Kas/bank[K] 100.000.000

10.01.2014

Persediaan[D] 100.000.000
Kas/bank[K] 100.000.000
12.01.2014
Piutang usaha[D] 24.000.000
Penjualan[K] 24.000.000
HPP[D] 20.000.000
Persediaan[K] 20.000.000
15.01.2014
Piutang usaha[D] 36.000.000
Penjualan[K] 36.000.000
HPP[D] 30.000.000
Persediaan[K] 30.000.000

Tidak diperlukan jurnal penyesuaian untuk HPP maupun Persediaan karena sudah dicatat sekaligus saat terjadi penjualan. Dengan kondisi diatas saldo awal 50.000.000 maka saldo akhir persediaan di buku besar sudah pasti sebesar 200.000.000 (saldo awal + pembelian – penjualan).

Sudah menggunakan sistem akuntansi untuk memudahkan dapat menginput data dan transaksi keuangan? Konsultasikan dengan kami software akuntansi apa yang cocok untuk perusahaan Anda. Kami dapat mempresentasikan software akuntansi yang cocok untuk perusahaan Anda.

Kami adalah konsultan penjualan dan implementasi untuk software akuntansi, software ERP, software payroll/HRIS untuk seluruh Indonesia mulai dari Aceh, Padang, Jambi, Bengkulu, Medan, Palembang, Bangka Belitung, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Pontianak, Balikpapan, Manado, Makasar sd. Jayapura. Dapatkan info lebih lanjut dari kami dengan menghubungi email info@akuntanesia.net atau telp 081995302077, kami siap membantu Anda dalam setiap permasalahan pembukuan perusahaan Anda. Demikianlah informasi mengenai menghitung persediaan metode periodik dan perpetual.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *